jump to navigation

Kemenangan Pasangan WARAS di Nias dan Nisel Secara Antropologi Sebuah Keanehan 21/04/2008

Posted by Moderator in Berita.
trackback

* Senada dengan kesimpulan diskusi Fokus Nias Barat di Jakarta 

Medan (Fokus Nias)
Kemenangan pasangan Wahab Dalimunthe-raden Syafei (Waras) di Nias dan Nias Selatan, yang penduduknya mayoritas Kristen diduga karena adanya peran birokrasi dalam menggalang kekuatan massa. Hal itu diungkapkan Ketua Bidang Antropologi Sosial Pasca Sarjana Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr Phil Ichwan Azhari MS.

“Secara antropologi, kemenangan pasangan Waras di Kabupaten Nias sebanyak 35,95% dan Nias Selatan 33,03% dari total suara yang mayoritas pemilihnya beragama Kristen adalah sebuah keanehan, karena mampu mengalahkan RE Siahaan yang telah mendapatkan dukungan penuh dari tokoh agama Kristen. Sehingga saya mengasumsikan adanya peran birokrasi menggalang kekuatan massa untuk memilih Waras, yang mengalahkan peran agama dan partai,” ungkapnya kepada wartawan, di Medan, Jumat (18/4).

Menurut Phil, hal ini disebabkan karena Kabupaten Nias dan Nias Selatan dipimpin oleh Bupati dari Partai Demokrat, yang merupakan partai pendukung Waras.
“Pasangan Waras secara karisma penokohan, juga tidak memiliki pengaruh yang besar di dua kabupaten itu, dan dari sisi agama juga tidak mendukung. Tapi kenyataannya Waras bisa memenangkan suara secara dominan, dan secara kajian antropologi ini sangat tidak masuk akal,” imbuhnya. Sehingga, Phil mengasumsikan ada peran-peran tokoh yang memiliki kredibilitas dari jaringan birokrasi yang mengarahkan massa untuk mendukung Waras. Karena pada dasarnya masyarakat yang terisolir itu mudah sekali di intimidasi, diarahkan dan dijanjikan ‘sesuatu’.

Diskusi Fokus Nias Barat

Hampir senada dengan pendapat Dr Phil Ichwan Azhari MS pada waktu dan tempat terpisah Forum Komunikasi Komunitas (FOKUS) Nias Barat Jakarta telah mendiskusikan fenomena hasil pilgubsu tersebut karena memiliki tren yang tersendiri dibandingkan dengan tren pemilih daerah lain di sumatera utara.

Hasil beberapa survei quick count pilgubsu Pasangan RE Siahaan mayoritas di 7 kabupaten/kota yaitu Sibolga, Tapteng, Taput, Humbang Hasudutan, Tobasa, Dairi dan Karo. Triben mayoritas di 3 kab/kota Simalungun, Pematang Siantar dan Samosir, Umara mayoritas di 3 kabupaten Madina, Padang Sidempuan dan Binjai. Syampurno mayoritas di 9 kab/kota Medan, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Asahan, Batubara, Tanjung balai, Tebing Tinggi dan Pakpak Barat Sedangkan Pasangan Waras mayoritas di 4 kabupaten Tapanuli Selatan, Labuhan Batu, Nias dan Nias selatan.

Keunggulan masing-masing pasangan cagubsu di tiap wilayah sangat sesuai dengan karakteristik cagub cawagub seperti Ummara yang islam, melayu, mandailing dan Golkar. Triben jawa, batak toba, kristen dan PDIP , Pass kristen, batak, jawa dan PDS. Syampurno melayu, jawa, islam, Golkar, PKS dan PPP sedangkan Waras mandailing, islam, PAN dan Golkar.

Seyogianya mayoritas pemilih Nias dan Nias Selatan logikanya masuk ke PASS (kristen, PDS) atau ke Triben (kristen, PDIP) atau yang masih mendekati masuk ke Ummara (Golkar). Tetapi realita pemilih kedua kabupaten tersebut mayoritas justru masuk ke pasangan Wahab Dalimunthe Raden Syafii (WARAS) yang diusung partai  demokrat dan PAN. Ini sesuatu yang diluar kelaziman yang berlaku di daerah lain di Sumatera Utara.

Seperti apa tren mayoritas pemilih di Nias dan Nias Selatan ? menurut kesimpulan diskusi Fokus Nias Barat yang berlangsung Sabtu, 19 April 2008 di Jakarta.

1. Pemilih Nias tidak sepenuhnya berpatokan pada partai yang mengusung.

2. Pemilih tidak berpatokan pada unsur primordial seperti agama dan suku.

3. Lebih mengikuti perkataan orang yang mereka temui/tim sukses atau jurkam atau perpanjangan tangan partai pengusung calon, dalam hal ini kedua ketua partai demokrat pengusung pasangan WARAS adalah pejabat bupati di Nias dan Nias Selatan sehingga melalui jalur birokrasi inilah ketemu dengan para pemilih di Nias.

Pemahaman yang terpatri di Nias masyarakat selalu bertanya dan mempercayai orang-orang PNS yang sering mereka temui seperti para guru, pegawai kecamatan dan PNS lainnya. Dari percakapan dengan orang-orang tersebutlah mereka menentukan pilihannya demikian disampaikan Usman Hidayat sekretariat diskusi FOKUS Nias Barat.

 

UMMA      : GOLKAR 

TRIBEN    : PDIP

PASS         : PDS-PKB

WARAS    : PAN-PBR-DEMOKRAT

SYAPUR  : PKS-PPP

 

No

Kab/Kota

PEROLEHAN   ( % )

KET

UMMA

TRIBEN

PASS

WARAS

SYAPUR

1

Binjei

36,1

21,1

3

6,22

33,5

UMMA

2

Langkat

11,33

15,58

2,44

6,71

63,93

SYAPUR

3

Pakpak

31,71

16,58

6,83

12,68

32,2

SYAPUR

4

Medan

10,7

21,74

14,01

9,06

44,48

SYAPUR

5

Deliserdang

16,75

21,55

7,61

15,11

38,98

SYAPUR

6

Serdangbedagai

21,23

24,13

7.6

13,91

33,2

SYAPUR

7

Tebingtinggi

10.67

31,2

2,67

16,53

38,93

SYAPUR

8

Tanjungbalai

14,87

14,34

13,94

19.92

36,92

SYAPUR

9

Batubara

21,8

12,6

5,4

8,8

51,3

SYAPUR

10

Asahan

24,5

16,7

9,7

21,2

28,4

SYAPUR

11

Karo

8,69

13,3

73,83

2,56

1,89

PASS

12

Dairi

8,14

37,79

45,48

3,19

5,4

PASS

13

Samosir

1,53

66,41

22,9

6,11

3,11

TRIBEN

14

Pematangsiantar

15,83

34,97

28,94

8,21

12,06

TRIBEN

15

Simalungun

16,66

32,64

27,33

8,5

14,86

TRIBEN

16

Nias

4,36

30,63

25,02

35,95

4,04

WARAS

17

Niasselatan

9,45

21,75

32,49

33,3

3,32

WARAS

18

Padangsidempuan

36,34

6,62

5,15

36,17

15,72

UMMA

19

Tapanuliselatan

22,14

12,68

5,41

42,9

15,87

WARAS

20

Labuhanbatu

16,97

23,02

8,08

33,95

17,98

WARAS

21

Sibolga

9,98

15,09

52,08

13,63

8,52

PASS

22

Tapanulitengah

5,18

22,87

57,9

6,84

9,02

PASS

23

Tapanuliutara

7,74

16,63

69,49

3,21

2,93

PASS

24

Humbanghasudutan

8,7

13,1

73,8

2,6

1,9

PASS

25

Tobasamosir

6,35

24,8

64,21

1,71

2,92

PASS

26

Mandailingnatal

61,69

1,95

0,87

17,04

18,45

UMMA

 (%) /  Menang wilayah

16,26 / 3

21,97 / 3

16,60 / 7

16,90 / 4

28,72 / 9

 

 

 

Komentar»

1. Ferdinan - 22/04/2008

kasihan banget masyarakat Nias, mereka menentukan pilihannya berdasarkan apa kata orang.

Itulah resikonya bila informasi tidak menjangkau masyarakat.

2. Yohanes Arnando - 24/04/2008

Kalau media komunikasi tidak bisa menjangkau pelosok-pelosok jadi begitulah, masyarakat memperoleh informasi dari mulut ke mulut.
Sangat beruntunglah kita yang berada di kota berbagai media komunikasi tersedia seperti TV, koran, internet dan telepon/HP..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: