jump to navigation

Nias Mempunyai Peluang yang Unik untuk Mengurangi Kemiskinan 24/04/2008

Posted by Moderator in Opini.
trackback

* Pengusaha Wanita di Desa Hiliwaito Gido Mencukupi Kebutuhannya

Dalam kunjungannya selama dua hari di Nias, Sumatera Utara, untuk meluncurkan kegiatan Analisa Belanja Publik di Nias, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Joachim von Amsberg mengunjungi beberapa proyek yang dikelola oleh Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) untuk Aceh dan Nias, Bank Dunia dan Dana Multi Donor, termasuk proyek perumahan, pembangunan jembatan dan program keuangan mikro untuk kaum wanita yang dikelola oleh masyarakat. Tim komunikasi berkesempatan mewawancarai Joachim mengenai kesan-kesannya tentang Nias.

Apa kesan anda secara umum mengenai program Nias?
Saya terkesan dengan keteguhan masyarakat. Mereka menangani tantangan yang mereka hadapi dan mampu mengelola proyek dengan sikap yang positif. Misalnya, masyarakat dapat memutuskan bahwa mereka lebih suka jika rumah mereka dibangun secara swadaya daripada menggunakan jasa kontraktor. Mereka rela mengotorkan tangan mereka untuk memperkuat fondasi jembatan. Saya sungguh kagum dengan kerelaan mereka.

Nias adalah salah satu daerah termiskin di Sumatera, bagaimana Nias dapat menghadapi tantangan ekonominya?
Sebenarnya Nias mempunyai peluang yang besar, apalagi setelah proyek-projek pembangunan diselesaikan. Dengan adanya jalan dan pelabuhan yang baik kondisinya, Nias sekali lagi akan menjadi pusat wisata budaya. Namun, pemerintah perlu memiliki keinginan yang kuat dalam mengelola aset tersebut. Bank Dunia dapat membantu menarik investasi dan melakukan peningkatan kapasitas, namun komitmen untuk pertumbuhan harus datang dari pemerintah. Seperti yang saya lihat, Nias dapat memulai pembangunan yang berbasis pada kekayaan budayanya, dengan memanfaatkan infrastruktur sebagai batu loncatan. Ini merupakan kesempatan yang tepat dan unik bagi warga Nias untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan mengurangi kemiskinan melalui upaya-upaya rekonstruksi.

Bagaimana dengan pembangunan di sektor pertanian?
Produktivitas pertanian merupakan kunci untuk mengentaskan kemiskinan. Tetapi, untuk mengembangkan sektor ini, Nias membutuhkan usaha tani yang lebih besar dan lebih maju karena sekadar bercocok tanam hanya akan cukup memenuhi kebutuhan lokal. Memang, lebih sulit untuk berorientasi ekspor atau bahkan untuk bersaing dalam perdagangan di dalam negeri. Karena itu, saya lebih berfokus pada wisata budaya. Keadaan alam Nias juga mendukung wisata ini.

Bagaimana Bank Dunia dapat membantu Nias mewujudkan tujuan pembangunannya?
Bank Dunia tidak hanya berfokus pada program rekonstruksi tetapi juga pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Melalui Dana Multi Donor, kami mengelola proyek infrastruktur senilai 85 juta dolar AS, yang meliputi pembangunan jalan, jembatan dan pelabuhan. Dengan arahan BRR, kami berharap hal ini akan membantu Nias membangun ekonominya.

Apa saja persoalan utama yang anda bahas dengan LSM-LSM internasional?
Kebanyakan LSM internasional ini telah ada di Nias sejak bencana gempa bumi yang lalu. Mereka telah melaksanakan berbagai program kebutuhan dasar, yaitu jalan pedesaan, sekolah, puskesmas, dan sebagainya. Tetapi seraya waktu berjalan, mereka menyadari bahwa upaya mereka tidak terpadu. Misalnya, sebuah LSM membangun sekolah, tetapi jalan untuk mendatangkan bahan bangunan tidak mungkin dilalui. Pada saat yang sama, LSM lain membangun jalan baru namun tanpa menyadari bahwa mereka seharusnya membangun jalan untuk sekolah tersebut lebih dulu. Maka, pendek kata, kami membahas koordinasi proyek-proyek dan bagaimana kami dapat berbagi informasi mengenai cara-cara bekerja yang lebih baik bagi
masyarakat di Nias

 

Pengusaha Wanita di Desa Hiliwaito Mencukupi Kebutuhannya

Desa Hiliwaito di kabupaten Gido tampaknya mempunyai kisah yang penting bagi para pelaku pembangunan di seluruh dunia: dengan meminjamkan uang dalam jumlah yang sangat kecil kepada beberapa wanita, seseorang dapat membantu meningkatkan taraf hidup seluruh keluarga melalui suatu model usaha yang telah terbukti efektif bagi pihak peminjam maupun pihak yang memberikan pinjaman.

Didukung oleh Program Pengembangan Kecamatan, sepuluh wanita membentuk kelompok agar dapat ikut dalam skema simpan-pinjam masyarakat. Dengan modal sebesar Rp 10 juta (1000 Dolar AS), kesepuluh wanita tersebut membeli beberapa mesin jahit, bibit untuk kebun sayur mereka sendiri dan ternak berupa ayam dan babi. Ketua kelompok, Diana Hora, mengatakan bahwa kelompoknya meminjam modal pada bulan Oktober 2006 dan sekarang telah membayar kembali pihak peminjam dengan bunga 1,25%. Karena usaha pertama mereka berhasil, mereka berencana meminjam lagi untuk memanfaatkan peluang hari-hari libur ketika daya beli masyarakat mencapai tingkat tertinggi.

Dalam obrolannya dengan para pengusaha wanita tersebut, Joachim von Amsberg, Country Director Bank Dunia untuk Indonesia menanyakan bagaimana mereka mengelola dana pinjaman masyarakat, mengembangkan usaha, serta usaha apa yang paling menguntungkan. ”Ternak!” jawab mereka serentak. Telur unggas memberikan penghasilan tetap kepada keluarga-keluarga, dan anak babi akan menjadi cukup besar sehingga menghasilkan bonus tambahan di Hari Natal nanti.

Setiap tiga bulan, sebagian besar wanita tersebut dapat menjual ternak mereka dan memperoleh marjin laba yang cukup tinggi, sehingga mereka dapat menjadikannya sebagai basis usaha kecil mereka. ”Menjahit memang menguntungkan tetapi kami tidak dapat mengandalkannya sebagai penghasilan harian karena orang-orang membuat baju hanya untuk hari libur atau ketika ada peristiwa-peristiwa khusus seperti pernikahan,” kata bendahara kelompok Kidalial. Mereka menanam terung dan singkong yang mereka jual di pasar Jumat atau mereka konsumsi sendiri.

Sambil mengucapkan selamat atas keberhasilan mereka mengelola dana pinjaman dan meningkatkan mata pencaharian, Joachim mengatakan bahwa Bank Dunia akan terus mencari cara-cara inovatif untuk membantu kaum wanita mendapatkan akses yang lebih mudah ke keuangan dan beliau menunggu lebih banyak masukan untuk mengadakan skema-skema baru bagi para pengusaha wanita.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: