jump to navigation

Sisa Cerita Bencana Gempa di Nias 24/04/2008

Posted by Moderator in Opini.
trackback

Citizen reporter Kamaruddin Azis mengunjungi tanah Nias pada minggu kedua Maret 2008, menjelang peringatan tiga tahun gempa dahsyat di daerah itu. Ia merekam betrbagai cerita dramatis, sedih dan menggetarkan hati dari beberapa warga setempat. Berikut laporannya,

Bantuan itu datang silih berganti. Melalui pemerintah dan LSM, trilyunan rupiah telah tersalurkan. Letak sejumlah desa di Pulau Nias yang terisolir sehingga rentan secara ekonom, merupakan salah satu alasan derasnya bantuan tersebut.

Berbagai fasilitas umum, gedung sekolah, perkantoran dan dukungan pengembangan mata pencaharian utamanya dalam sektor perikanan dan pertanian sampai sekarang masih berlangsung. Tiga tahun pasca tsunami, pembangunan Nias berlangsung dengan pesat. Namun itu semua tidak mampu menepis goresan kepedihan yang dirasakan warga.

Pulau Nias secara administratif terbagi atas dua kabupaten yaitu Nias dan Nias Selatan. Nias beribukotakan Gunung Sitoli sebagai kabupaten induk dan Nias Selatan dengan ibukota Teluk Dalam. Pulau di sebelah barat Pulau Sumatera dan berbatasan dengan Samudera Hindia ini merupakan pulau induk dari berbagai gugusan pulau kecil yang terbentang dari Kecamatan Lahewa hingga pulau-pulau Batu dan Hinako.

Jika kita belajar dari gempa bumi dan tsunami Aceh tahun 2004 dan beberapa kejadian gempa sebelum dan sesudahnya, dapat disimpulkan bahwa sepanjang Pulau Weh di Sabang, Pulau Simeulue, Pulau Nias hingga perairan Pulau Mentawai ke timur adalah kawasan rawan gempa. Gempa tahun 2005 itu adalah salah satu yang terdahsyat, meluluhlantakkan wilayah pulau tersebut.

Beberapa gempa susulan masih kerap terjadi sejak bulan Maret itu. Warga masih ketakutan namun seiring dengan perjalanan waktu hal itu menjadi sirna. Tidak lama setelah gempa menentukan tersebut, beberapa warga masih tinggal di atas bukit dan enggan pulang kembali ke kampungnya. Setelah melalui sosialisasi oleh beberapa pihak seperti NGO dan unit terkait, warga kemudian kembali ke pemukimannya.

Sekarang, dampak yang masih terasa adalah perubahan bentuk wajah dasar laut dan pantai, yaitu bertambahnya luas pantai karena adanya pengangkatan badan pulau pada beberapa sisi pantai utamanya di sebelah utara dan barat pulau. Bencana gempa bumi hebat dan kuat tersebut mengangkat rataan pantai hingga 1,5 meter dan pada sisi lain pulau terjadi amblas yang juga sangat signifikan.

Edi dan Kenangannya
Adalah Jefriadi, 27 tahun, dan lelaki paruh baya Hidayat Polem, dua warga Nias asal Aceh-Padang yang menginspirasi saya untuk menulis cerita tentang pengalaman mereka ketika kejadian gempa di Nias hampir 3 tahun silam. Mereka lahir besar di Nias dan sangat fasih berbahasa Nias dan bahasa Padang. Walau kakeknya asal Aceh, tidak bisa berbahasa Aceh.

Mereka mengaku sebagai keturunan trah Polem dari Aceh dan lahir di Nias. Sebenarnya mereka tidak tidak pas disebut marga Polem karena di Aceh, Polem adalah tingakatan Teungku seperti Panglima Polem. Namun kemudian mereka mengikuti tradisi setempat yang membiasakan warganya untuk menempatkan nama famili atau asal daerah di belakang namanya. Maka, jadilah Hidayat Polem, Jefriadi Polem.

Edi (begitu ia dipanggil) bercerita, beberapa saat sebelum kejadian, terasa sekali jika suhu udara begitu panas dan warna di langit nampak kemerah-merahan. Hal yang tidak lazim. Warna kemerahan itu hampir menyelimuti atmosfer Nias. Edi dan beberapa orang kawannya sedang terlibat pertemuan untuk satu program sosial. Sementara keluarga besarnya yang keturunan Aceh Padang sedang melaksanakan acara syukuran. Edi merasa heran karena tiba-tiba ingin sekali mengenakan baju hingga tiga lapis.

Awalnya guncangan terasa pada sekitar pukul 11 kurang 10 menit. Begitu yang diingatnya. Lalu mereka panik tapi kemudian tersadar dan mengucap doa, zikir. Demikian kuatnya gocangan itu mereka seakan hendak terjengkal dan terdorong. Lalu, spontan mereka merapat dan berpegangan membentuk formasi bagai sedang terjun parasut.

Goncangan dan bunyi gemeretak bangunan dirasakannya pada saat itu. Gempa itu menggoyang daratan pulau daratan Nias bagai diayun ombak lalu kemudian dihempaskan. Edi menggambarkan kejadian itu dengan gerakan tangannya menyerupai alunan ombak dan hempasan. Demikian kuatnya hingga mereka yang sudah berpegangan terjungkal dan segera membaringkan badan. Setelah agak reda mereka hendak keluar ruangan namun pintu ruangannya tertutup dengan grendel yang bengkok. Terkunci mati karena pergeseran daun pintu oleh getaran. Untungnya mereka dapat lolos setelah bersusah payah menggeser pintu. ”Setelah keluar dari ruangan tersebut kami berpencar mencari keluarga masing-masing,” katanya.

Edi kemudian menyaksikan rumah berlantai tiga, yang saking kuatnya goyangan dan runtuhannya hingga lantai beton puncak lantai tiga jatuh dan melewati empat petak rumah di sebelahnya. Hampir semua penghuni yang ada di sekitarnya meninggal, kalaupun ada beberapa yang selama pasti terluka berat. Beberapa korban yang dilihatnya; ada yang batok kepalanya kelihatan, ada yang patah tulang rangka dan kakinya. Seorang anggota keluarga Edi, yang sempat terkurung dalam runtuhan bangunan selama 3 hari dan selamat setelah ditemukan anggota sukarelawan.

Rilis pemerintah menyebutkan, jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter itu mendekati 600 orang. Di Kabupten Nias Selatan mencapai 165 jiwa dan di Kabupaten Nias 422 orang. Korban tewas terbanyak di Gunung Sitoli sebanyak 239 orang. Puluhan ribu warga mengungsi ke gunung dan tempat-tempat yang aman termasuk ke wilayah daratan Sumatera, Sibolga dan Medan. Gempa Nias pada tanggal 28 Maret 2005 adalah tragedi nasional.

Ratusan warga meninggal karena terhimpit bangunan rumah dan reruntuhan gedung telah menjadi bukti betapa bencana alam bisa terjadi kapan dan dimana saja. Hidayat Polem sempat berpikir bahwa ketika gempa itu menyerang Nias, dunia telah kiamat dan kejadian tersebut pasti bukan hanya di Nias tetapi seluruh dunia. “Betapa tidak, untuk duduk saja kami tak sanggup bertahan. Walau sudah berpegangan namun kami tidak bisa menahan goncangan tersebut,” kenangnya.

Kala itu, mesjid begitu riuh dengan zikir namun ada pula yang berlarian ke gunung karena adanya isu tsunami. Namun demikian Edi dan kerabatnya yang bertahan di mesjid itu tetap memperhatikan dan merawat korban yang semakin banyak dibawa ke halaman mesjid. Warga juga berdatangan mencari perlindungan di dalam mesjid.

“Seingat saya, sekitar 4 hari setelah gempa SBY datang ke Nias dan memberi dorongan moril bagi warga Nias. Kala itu juga, kami sangat tergugah oleh keberanian seorang anak muda bernama Ucok yang sengaja menghadang laju kendaraan SBY dan berdiri di tengah jalan dan memohon kepada SBY untuk memperhatikan sekolah yang telah runtuh,” jelas Edi. Menurut dia, sekolah madrasah tersebut dibangun kembali dengan biaya sekitar 1 Milyar dan telah rampung.

Posisi Nias yang berada pada poros gempa wilayah Sumatera bagian barat memang sangat rentan. Namun Edi tidak bermaksud meninggalkan Nias. Tanah ini adalah tempat lahir dan tumbuh kembangnya. Menyerahkan diri pada yang mahakuasa adalah penawar rasa takutnya. Kejadian gempa Nias, baginya paling tidak sebagai bukti kebesaran kuasa pencipta alam. Bagi Edi, bencana itu adalah pertanda kebesaran sang Khalik dan pasti ada hikmahnya.

Edi juga menunjukkan kekecewaannya karena tidak lama setelah kejadian tersebut tersiar kabar adanya penjarahan toko kelontong dan toko handphone. “Kios-kios sandang pangan banyak yang dijarah. Mestinya kita bertafakur dan istighfar memohon ampun kepada yang mahakuasa. Bukannya malah menunjukkan ketamakan,” demikian Edi prihatin.

Diceritakan juga tentang beberapa warga yang mudah tergoda materi dan tanpa malu-malu bertengkar demi bantuan. Dia merekam kejadian ketika di halaman mesjid Jami’ ada pengungsi yang sempat bersitegang hanya gara-gara baju bantuan. Namun di sisi lain, Jefriadi kagum kepada sukarelawan dan aktivis NGO yang sangat memperhatikan para korban, beberapa NGO dari Inggris bahkan tidur bersama dengan para pengungsi walau hujan dan panas.

“Bang, pada saat kejadian tersebut, saya merasakan adanya bayangan putih berkelebat di atas kota Gunung Sitoli. Saya merasa terlindungi,” kata Edi.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: