jump to navigation

Daerah Otonom Digabungkan 25/04/2008

Posted by Moderator in Pemekaran Nias.
trackback

JAKARTA (Fokus Nias)

Pemerintah berencana mengembalikan semua daerah otonom baru yang tidak berkembang untuk bergabung lagi dengan daerah induknya.

Menteri Dalam Negeri Mardiyanto mengatakan, penggabungan kembali daerah otonom baru akan direalisasikan setelah dilakukan evaluasi lima tahun pascapemekaran. Menurut dia, evaluasi daerah otonom ini terus dilakukan untuk menunjukkan wilayah mana yang tidak prospektif dan tidak menunjukkan pertumbuhan yang baik.

”Jika dalam evaluasi tersebut menunjukkan tandatanda tidak berkembang, pemerintah memper timbangkan untuk digabungkan kembali. Tentunya tidak dilakukan secara tiba-tiba, tetapi berdasarkan penilaian dan tetap dievaluasi dampak yang kelak ditimbulkan,” kata Mardiyanto. Saat ini, pemerintah sudah memekarkan 173 wilayah.

Semuanya akan dievaluasi tim yang dibentuk oleh pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota di bawah Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) pusat.Wilayah yang akan dievaluasi tentunya lebih dari lima tahun sejak dimekarkan. ”Memang tidak mudah untuk melakukan evaluasi sekumpulan daerah.

Apalagi, pemekaran sudah melalui proses politis,”ujarnya. Tim evaluasi di bawah DPOD tersebut akan berlaku netral dan transparan dalam melakukan pemekaran, sehingga daerah yang benarbenar tidak berkembang, tetapi memaksakan untuk tetap mandiri, justru akan merasakan kesulitan.

Wakil Ketua Komisi II DPR Idrus Marham mendukung rencana Depdagri tersebut. Sebagai langkah awal,pihaknya mengusulkan moratorium pemekaran. Moratorium diperlukan untuk kesempatan mengevaluasi daerah hasil pemekaran. Evaluasi dilakukan terhadap penyelenggaraan pilkada di sejumlah daerah.

”Dari awal memang kita mengusulkan evaluasi,” terangnya kepada SINDO kemarin. Dia menyata kan,dari evaluasi tersebut diharapkan akan terbentuk grand design tata ruang Indonesia, misalnya jumlah ideal provinsi di setiap pulau. Hal lain yang menjadi perhatian adalah meminimalisasi kepentingan politik dan ekonomi dengan adanya usulan pemekaran.

Anggota Fraksi Partai Golkar ini menyatakan,beberapa usulan pemekaran disinyalir ditunggangi kepentingan elite politik dan investor yang ingin mengeksploitasi kekayaan alam suatu daerah. Sayangnya,Idrus enggan menyebutkan daerah pemekaran yang diduga akibat permainan elite.

”Bisa saja usulan pemekaran muncul karena ada elite politik gagal dalam pilkada. Bisa juga ada kepentingan bisnis karena daerah yang akan dimekarkan mempunyai kekayaan alam melimpah,” tandasnya. Anggota Komisi II DPR Jamaluddin Karim mengatakan, rencana penggabungan daerah pemekaran yang tidak produktif harus dilakukan secara hati-hati.

Sebab, risiko politiknya cukup tinggi dan masyarakat setempat tidak akan mudah menerima putusan pemerintah tersebut. ”Pemerintah harus memahami betul karakter masyarakat lokal,”ujar Ketua Fraksi BPD ini.

Komentar»

1. Marthen Ln. - 03/03/2009

Rencana penggabungan kembali daerah otonom yang belum menunjukan kinerja yang baik, bahkan daerah yang boleh dibilang gagal adalah langkah formal yang bisa saja diwujudkan karena hal itu merupakan amanat aturan yang berlaku yang disepakati oleh seluruh elemen bangsa ini. Namun sebaiknya sekarang pemerintah tidak bicara penggabungan kembali daerah-daerah tersebut ke daerah induk, karena langkah tersebut masih prematur, mengingat otonomi daerah baru mulai efektif dilaksanakan tahun 2001. Atau boleh dibilang usia otonomi daerah (bahkan untuk daerah yang dimekarkan sejak tahun 2001 sekalipun) boleh dibilang berusia masih belum setahun jagung. Sehingga daerah-daerah pemekaran perlu diberi kesempatan untuk belajar menata dan dan berbenah. Oleh karena itu, yang penting dilakukan pemerintah (pusat) adalah memberi perkuatan agar daerah- daerah tsb. dapat melakukan akselerasi pembangunan di daerah. Alangkah tergesanya dengan limit waktu sedemikian singkat daerah-daerah ini dinilai gagal dan digabung kembali ke daerah induk alias dihapus. Daerah-daerah pemekaran ini kalau dicermati kebanyakan merupakan daerah-daerah yang kurang beruntung selama ini dan boleh dikata baru melepaskan diri dari ‘penjajahan panjang desentralisasi’ yang mereka alami selama ini. Indonesia yang sudah lebih dari setengah abat merdeka saja, sementara (dan masih) butuh banyak waktu untuk menata dan membenahi berbagai aspek pembangunan, diantaranya sosial, ekonomi, politik dlsb-nya.

2. Marthen Ln. - 03/03/2009

Edisi revisi atas komentar di atas
Rencana penggabungan kembali daerah otonom yang belum menunjukan kinerja yang baik, bahkan daerah yang boleh dibilang gagal adalah langkah formal yang bisa saja diwujudkan karena hal itu merupakan amanat aturan yang berlaku yang disepakati oleh seluruh elemen bangsa ini. Namun sebaiknya sekarang pemerintah tidak bicara penggabungan kembali daerah-daerah tersebut ke daerah induk, karena langkah tersebut masih prematur, mengingat otonomi daerah baru mulai efektif dilaksanakan tahun 2001. Atau boleh dibilang usia otonomi daerah (bahkan untuk daerah yang dimekarkan sejak tahun 2001 sekalipun) boleh dibilang berusia masih belum setahun jagung. Sehingga daerah-daerah pemekaran perlu diberi kesempatan untuk belajar menata dan dan berbenah. Oleh karena itu, yang penting dilakukan pemerintah (pusat) adalah memberi perkuatan agar daerah- daerah tsb. dapat melakukan akselerasi pembangunan di daerah. Alangkah tergesanya dengan limit waktu sedemikian singkat daerah-daerah ini dinilai gagal dan digabung kembali ke daerah induk alias dihapus. Daerah-daerah pemekaran ini kalau dicermati kebanyakan merupakan daerah-daerah yang kurang beruntung selama ini dan boleh dikata baru melepaskan diri dari ‘penjajahan panjang sentralisasi’ yang mereka alami selama ini. Indonesia yang sudah lebih dari setengah abat merdeka saja, sementara (dan masih) butuh banyak waktu untuk menata dan membenahi berbagai aspek (pembangunan), termasuk sosial, ekonomi, politik dll.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: