jump to navigation

Nuansa Bugis Salah Satu Kemajemukan di Tanö Niha 04/05/2008

Posted by Moderator in Opini.
trackback

Sejak Februari 2006, Kamaruddin Azis merasakan aliran gairah yang tinggi ketika mengunjungi beberapa desa, pulau-pulau utamanya di Nias bagian selatan atau ujung barat pulau Sumatera. Betapa tidak, desa pulau ini mengingatkannya pada nama-nama yang akrab, seperti Tello, Asu, Bögi, Baluta, Lahewa, Turelaya. Kemudian ketika mengunjungi pulau Tana Masa dan pulau Tello, di Nias Selatan, tokoh masyarakat setempat menyebut bahwa pulau ini dulunya dibuka oleh suku Bugis. Berikut laporannya.

(Foto : Perkampungan nuansa islam di pesisir Nias)
Kekaguman dan gairah mencari informasi tentang jejak Bugis ini terjawab juga dengan banyaknya nama-nama warga Nias yang berfam Bugis. Beberapa nama seperti Amiruddin Bugis, Mirwan Bugis dan sebagainya. Mereka menggunakan fam Bugis mengikuti jejak warga lokal yang menggunakan nama Zebua, Sarumaha, Zega, Gee, Zai, dan sebagainya. Ketika saya bertanya pada beberapa warga Gunung Sitoli, desa yang banyak dijumpai fam Bugis, mereka menyebut desa Fowa di sekitar wilayah ibukota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias.

Menyebut pulau Nias tentu yang pertama terbayang adalah tradisi loncat batu dan bencana gempa yang dahsyat itu. Dua hal ini adalah yang mengemuka atau bisa jadi kening kita akan mengkerut pertanda awamnya kita tentang pulau Nias. Tapi tahukah kita bahwa tentang daerah ini pada beberapa forum diskusi terjadi debat dan diskusi sengit tentang asal usul suku Nias (termasuk di internet) yang melibatkan praktisi, budayawan dan LSM seperti di Leiden, Jakarta, Medan dan di Nias sendiri. Salah satu elemen pokoknya adalah pengaruh suku dari timur atau Bugis?

Pulau Nias atau Tano Niha terdiri dari 132 pulau besar dan kecil. Membayangkan pulau Nias persis membayangkan luas pulau Selayar dua kali lipat, dengan pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Bonerate dan Jampea.

Membaca buku “Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi” karangan Pater Johannes Maria Hammerle, kita semakin menemukan hubungan dan pertalian budaya yang begitu kuat walau pada beberapa aspek masih perlu dipertajam dan diriset lebih dalam. Bersama Aceh, Melayu Sumatera, dan Batak, bangsa Bugis telah menjadi tulang punggung sosial dan pewarna budaya Nias jauh sebelum awal abad ke-20. Dari catatan riset etnologis-antropologis tentang Nias, terungkap bahwa komunitas ini telah berumur lebih 100 tahun. Tetapi sejak seratus tahun pula tidak banyak lagi yang terjadi. Dan dari sinilah Pater Johannes Hämmerle ikut meramaikan dunia penelitian etnologis-antropologis tentang Nias dengan publikasi yang patut mendapat pujian.

Catatan Peneliti
Pada tulisan ini saya mengutip beberapa catatan peneliti Belanda Pater Johannes Maria Hammerle, yang menunjukkan bahwa asal usul suku Nias sangat dipengaruhi oleh suku dari luar. Dia mencoba menelusuri cerita atau asumsi bahwa Bugis sangat berperan. Disebutkan bahwa pelaut Bugis adalah pelaut yang tangguh dan ditemukan hampir di seluruh wilayah tanah air.

Menurut dia, adalah pulau Hinako yang sering dianggap sebagai daerah Bugis lama. Pulau Hinako berada di seberang kota Sirombu di Nias Barat atau Nias selatan bagian barat. Kepulauan Hinako terdiri dari 8 pulau dimana sebagian besar warganya adalah keturunan Bugis. Merekadatang ke Nias sekitar abad ke-17 atau sekitar 13 generasi lalu. Ceritanya, mereka yang datang itu adalah tiga bersaudara. Anak pertama kelak tinggal di pulau Hinako, anak kedua tinggal di Sinabang, pulau Simeulue (Aceh) dan anak ketiga tinggal di pulau Batu (Tello Nias Selatan). Orang Bugis yang tinggal di Hinako kerap diserang oleh orang Aceh bahkan nyaris dihabisi. Orang Bugis ini mempunyai marga Maru Ndruri, Maru Ao, Maru Hawa, Maru Abaya, Maru Lafau, dan Bulu ‘Aro dan lain lain.

Selain itu terdapat juga versi tentang Bugis di Nias Selatan. Mereka disebut menjelma menjadi suku Bekhua atau suku raksasa. Terdapat 90 orang raksana bekhua (Bugis) yang disebut Laowo Maru. Bekhua ini diserang dan terbunuh. Tersisa satu orang yang melarikan diri dan sampai di Hinako.

Sementara missionaris Steinhart yang berkarya di kepualau Batu dari tahun 1924 sampai 1939 memberitahukan bahwa di kepulauan Batu, orang-orang Bekhua dihormati sebagai pemilik tanah atau penghuni asli. Leluhur mereka disebut Maru. Sewaktu Steinhart masih berada di kepulauan Batu, ditemukan penduduk yang sanggup mengucapkan beberapa rumusan bahasa mereka, li bekhua. Tetapi tidak tahu lagi mengartikannya.

Bahasa daerah orang Bugis di Hinako menurut beberapa orang masih digunakan pada abad ke-19. Tetapi pada abad ke-20 orang Bugis di Hinako mulai menggunakan bahasa Nias. Analisis ini diperkuat oleh buku tulisan Tuanko Rao, bahwa sudah ditemukan masyarakat campuran di wilayah pelabuhan Singkuang, pantai barat Sumatera pada tahun 1416, termasuk adanya komunitas Bugis dari Sulawesi. Leluhur yang datang ke pulau Hinako selalu menggunakan nama Maru, padahal hanya satu marga yang datang tersebut dari Maros atau Maru, demikian Pater Johannes menulis dalam bukunya yang kontroversial tersebut. Pater juga menyebut bahwa tradisi lisan pada abad ke-20 tidak terjamin lagi dan dengan cepat menghilang. Hal ini terbukti di Hinako dimana tradisi lisan itu hampir punah.

Mendukung informasi tersebut, menurut catatan arsip KJTLV di kota Leiden, Belanda, keturunan Bugis di Hinako dikenal sebagai raja Kelapa. Informasi ini diperoleh pada tahun 1980 yang menyebut marga Maru yang mendiami Hinako terdapat 5 marga. Diperkirakan bahwa awal kedatangan to-Maru adalah pada tahun 1675. Ini setelah memperhatikan catatan-catatan dari Leiden tersebut.

Selain itu ada beberapa versi yang cukup mengejutkan, misalnya penggalian di gua Togi Ndrawa (menurut penelitian yang baru dilakukan di Heilberg, Jerman), atau gua Pelita, yang menunjukkan bahwa masyarakat sudah tinggal di sana sejak 7000 tahun yang lalu. Salah satunya adalah di daerah Hinako itu, dan di pulau-pulau Wesi Selatan telah ada selama 17-18 generasi yang lalu. Mereka disebut suku Maru yaitu suku asli orang Bugis di Nias. Para missionaris menyatakan bahwa bahasa mereka telah hilang kira-kira 100 tahun yang lalu. Kemudian orang Aceh datang ke Nias kira-kira 13-14 generasi yang lalu.

Cerita Versi Modern
Lain catatan peneliti lain pula cerita dari mulut ke mulut. Adalah nama kecamatan Lahewa di Nias Utara yang awalnya dibangun oleh pendatang Bugis yang konon bernama A.Gasiguro Bugis yang berdiam di Moawo pada sekitar awal 1900 yang kemudian mempunyai anak bernama Muhammad Ali Bugis (A. Gaviti Bugis) yang merintis pelabuhan Lahewa menjadi pelabuhan besar Lahewa. Beberapa daerah atau kampung, yang sepertinya dipengaruhi kata Bugis atau Makassar adalah Toyolawa dan Turelaya. Belanda melakukan ekspedisi pertama kalinya di Nias tahun 1855, kemudian pada tahun 1863. Nias telah dikuasai Belanda tahun 1914 seiring dengan gelombang pendatang yang juga semakin besar. Sejak tahun ini di pulau itu, menurut cerita, datanglah pedagang dari tanah Sulawesi.

Sayang sekali ketika menjejak Nias Selatan, tepatnya pulau-pulau Batu, saya tidak sempat mengunjungi pulau Hinako. Pulau Hinako inilah yang disebut oleh Pater Johannes sebagai pulau pelarian Bugis yang selamat dari pertempuran. Namun di dekat pulau ini saya mengunjungi beberapa pulau yang oleh warga setempat disebutkan bahwa untuk pertama kalinya dihuni oleh orang Bugis. Namanya pulau Tello. Selain itu terdapat pula nama pulau seperti pulau Baluta, Asu, Wesi dan pulau Bogi. Nama-nama yang terkesan Bugis.

Dalam kajian lain pernah pula terungkap bahwa masyarakat Nias pernah menggeluti olahraga ma’raga (takraw). Ma’raga berasal dari kata Bugis, sedangkan orang Makassar, sering menyebut permainan ini dengan a’raga (olahraga). Ma’raga termasuk jenis permainan yang memadukan unsur olahraga dan seni. Permainan yang berasal dari Malaka ini, konon hanya dilakukan oleh para bangsawan Bugis saat diadakannya upacara-upacara resmi kerajaan seperti pelantikan raja dan perkawinan anggota kerajaan. Sepak raga di Nias disebut Fa Rago/Famai Rago (Bermain Rago/Berolahraga). Permainan rakyat ini di Nias sudah jarang dilaksanakan atau tidak pernah terlihat lagi.

Terdapat juga hikayat tentang datangnya penganjur Islam, sekitar tahun 1215 H atau 1794 M di bawah pimpinan Haji Daeng Hafiz yang tinggal dan menetap di Gunungsitoli. Dalam pandangan penulis, Bugis telah menyebar hampir di seluruh wilayah kepulauan nusantara. Mereka meninggalkan jejak di Simeuleu, Singkil, Nias, dan beberapa daerah kunci di Sumatera. Ini berarti bahwa mobilitas yang tinggi dan pantang mundur itu dari dulu sudah terpatri. Tentu saja hal tersebut menyimpan sebuah misi.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut di atas, paling tidak terdapat pengakuan dan sisa-sisa tulisan dan diakui di tengah masyarakat setempat, seperti masih adanya nama fam Bugis tersebut. Terdapat fam Bugis yang tidak bisa berbahasa Bugis lagi.

Kita akan semakin yakin bahwa Bugis pada masa lalu memegang peranan penting dan menjadi patron bagi perkembangan wilayah di tanah air. Gambaran di atas adalah khasanah atau kekayaan sejarah nasional. Karenanya, dibutuhkan upaya yang lebih mendalam untuk mencari informasi berserak yang dapat menjadi gagasan komunal tentang revitalisasi daya jelajah dan daya juang masyarakat di nusantara.

Komentar»

1. Zulham - 27/10/2008

Nias itu sangat menyenangkan walaupun disana mayoritas agama kristen tapi kami yang muslim sangat bahagia tidak ada sedikitpun khawatir akan dimusuhi oleh orang kristen dan mau mendirikan mesjid, mushola sebanyak apapun tak ada halangan sedikipun.

Malah saya berpikir bahwa orang kristen di Nias itu sangat menghormat i ibadah agama muslim, buktinya pengeras suara toa tiap azan subuh berkumandang padahal mayoritas disana orang kristen tapi tak ada protes sedikitpun.

Terima kasih saudaraku masyarakat Nias.
perbedaan agama tidak membuat kita berbeda.

2. Hinitola Waruwu - 27/10/2008

Thanks ya Zulham, anda memberikan fakta toleransi orang kristen thd muslim, ini perlu diketahui oleh masyarakat muslim seluruh Indonesia bahwa di Nias kebebasan minoritas muslim disana dijamin bukan seperti oknum di luar Nias meteror minoritas kristen didaerahnya.

Seandainya nih di Nias masyarakat melarang mendirikan masjid dengan tidak memberikan rekomondasi, saya mau tanya gimana perasaan orang islam ? sakit kan ! oke deh semoga ini memberikan kesadaran kepada orang-orang yang masih dangkal pikirannya.

Tuhan memberkati kita semua.

3. Gera - 30/10/2008

Nias adalah tempat yang nyaman, aman bagi semua pemeluk agama.
Kepada FPI belajarlah dari Nias.

4. Soyo Tug4 - 17/01/2009

Terlepas dari kontroversi sejarah asal-usul orang Hinako khususnya bermarga MARU, sebagai keturunan dari marga Marundruri(P.Hinako) saya tetap meyakini keabsahannya.
Hal ini diperkuat dgn daftar silsilah(tambo) marga kami yg didasari oleh pengakuan para leluhur kami dimana mereka menyatakan diri sbg keturunan suku Bugis yg dipaparkan dgn jelas didalamnya.
Menurut sejarah, orang Bugis yg “terdampar” di P.Hinako mengawini marga Maru’ao(penduduk asli) yg selanjutnya melahirkan garis keturunan marga Maru lainnya: Maru Ndruri, Maru Hawa, Maru Lafau & Maru Abaya.
Diyakini pula bhw marga Maru keturunan Bugis berasal dari kampung Maros, Sulawesi Selatan.
Dari sisi watak & kebiasaan hidup juga banyak kesamaan a.l: keras kepala(idealis), hobby melaut, dll..
Bahasa Maru yg pertama kali digunakan sbg bahasa sehari-hari di P.Hinako juga diyakini berasal dari bahasa Bugis, walau kini bahasa tsb perlahan-lahan mulai punah dan jarang sekali yg menguasainya, apalagi samasekali tidak diwarisi oleh generasi sekarang karena memang tidak diwajibkan penggunaannya seiring dgn perkembangan bahasa Nias dalam kesehariannya.
Saohagolo bung Zulham !..

5. Siamir Marulafaau,Drs,M.Hum - 18/02/2009

Maaf,Maruao tidak termasuk dalam tambo Marulafau keturunam Daeli sampai pada Gea,Gandria,yang beranak Taotohesi kemudian beranak 2 org,yaitu 1.Sawanagara dan 2.Siwake(nenek Marunduri}.Maruao ,maruabaya diperkirakaan keturunan Bugis.Kalau memang demikian dimana dan bagaimana silsilah, terombo Maruao,?Sejarah agaknya berbeda dgn terombo.Terombo merupakan silsilah yang tersusun secara sistematis dari satu keturunan sampai pada keturunan berikutnya secara isnad dan begitu juga wasiat dan tuturan didalamnya,dan ini tidak bisa ditambah dan dikurangi.Nah apakah ada terombo Marunduri ? Coba dituliskan dan dijelaskan dalam forum ini.

6. T.F.Marundrury - 24/02/2009

Gayung bersambut..
Berikut terombo Marundruri:
(1)Daeng Jacob–>(2)Toeha Mangenano–>(3)Maroewa–>(4)Toeha Mangoelole–>(5)Laowo Zatandroea–>(6)Laowo Zamofo–>
(7)Maharadja Mosino–>(8)Larise Lahoesa–>(9)Toeha Soromi-Labobo
–>(10)Toeha Maroe-Radja–>(11)Samofo-batoe–>(12)Laowo-Maroe di Toerewodo–>(13)Laowo-Hinasi–>(14)Lasagoe–>(15)Hinagoe–>
(16)Bagai–>(17)A:Lahoe Noroma–>(18)Lahoe Mejari(18)Lahoe Mechou–>(19)Lahoe-Larise Mololo–>(20)Lahoe-Oeri–>(21)Lahoe-
Tegawa–>(22)Hala Maharadja–>(23)Rai Zihono–>(24)A:Zihono–>
(25)Batoe Mosino–>(26)Baloegoe Lango–>(27)Baloeogoe Lio–>
(28)Laowo Tafonao Radja-Maroe Hinako: mempunyai 4(empat) orang
putera yang mana putera ke-2(dua) Beliau merupakan Buyut dari Buyut kami (Faoedoebawa bergelar Balugu Bawazihono alias Ama Masati sebagai Tuhenori II) sampai pada generasi kami Marundruri ke-35(tiga puluh lima).
Demikian sejarah terombo Marundruri, semoga berkenan. Trim’s..!

7. Siamir marulafau - 12/03/2009

Terimakasih atas penjelasan terombo anda,khususnya buat Sdrku.T.F.Marunduri dan perlu diingat bahwa urutan no 28, yaitu Laowo Tafonao Radja Maroe Hinako(dikenal dgn Radjo Nako) adalah teman kakek orang tua saya bernama Radjo Makuto anak dari Radjo Bandahara atau Balugu Hili.Yaahowu.

8. T.F.Marundrury (A.Rubeno) - 12/03/2009

Sama-sama pak Amir Marulafau, sebagai sesama orang Hinako saya cukup respect thd pengetahuan anda ttg sejarah kampung kita.
Perlu anda ketahui bahwa kami masy.Hinako khususnya diJakarta melalui wadah PMHS sdg mengupayakan penggalian/pelestarian sejarah mengenai leluhur kita, oleh karenanya kami berharap suatu sa’at nanti kami selaku Pengurus PMHS dapat menjumpai anda guna menambah wawasan kita semua ttg sejarah kampung kita Kep.Hinako tercinta.
Wassalam, yaahowu . . .

9. Alfahry Marulafau - 30/03/2009

Pak Amir dkk
tolong dijelasin tentang asal usul marga marulafau !!!
Dan sejak kapan marga marulafau memeluk agama Islam ??

10. Alfahry Marulafau - 30/03/2009

Jadi marga marulafau itu tidak ada hubungan darah dengan suku bugis atau gimana ??

terima kasih sebelumnya…

11. Drs.Siamir marulafau, M.Hum - 03/04/2009

Untuk Sdr.Alfahry Marulafau,Asal usul Marga Marulafau berasal dari Tuada Fau, anak mangaja Gea no,6 yang menurunkan keturunan silulauru,beranak Tuhalauru,beranak sampaipada Mojo Sause esi branak Balugu Gandria ,yg pergi di Maru Awa’ai dan membuka suku Marulafau sampai pada Tuada Sawanagara,Balugu Ifa,Ichumaru pindah di Hinako beranak Balugu Hili(Raja Bandahara)dan taubat memeluk agama Islam sampaipada RajaMakuto, Abdul Aziz. Mhd. Chatam Marulafau,Drs,Siamir Marulafau,M.Hum,Suryaman Marulafau,. Mhd. Rikcky Marulafau tinggal di pulau Bawa .Jadi tidak ada hub silsilahnya dgn suku Bugis.Mangaraja Gea adalah keturunan no,25 dari Tuada Daely org no,1 di pulau Nias yg nenek moyangnya berasal dari Yunan(Cina Selatan) sekitar 3500 thn yg silam. (Apakah tdk ada terombo yg ditinggalkan pada Kalian ?)

12. Alfahry Marulafau - 06/04/2009

Pak Amir terimakasih atas penjelasannya….!
Mengenai terombo, di Hinako sudah tidak ada lagi terombo yang lengkap mengenai asal usul marga marulafau. Kalau pun ada itu hanya terombo satu garis keturunan saja, tidak marga marulafau secara keseluruhan.. Dan saya pernah tanya mengenai terombo tersebut kepada Bapak saya (Rahmat Sidik Marulafau), tapi beliau tidak tahu siapa yang masih menyimpan terombo tersebut dan kemungkinan sudah tidak ada lagi..

Kalau bisa dijelaskan lagi tentang marulafau yang tinggal di Pulau Bawa dengan yang tinggal di Hinako ?
terimakasih…

13. Drs.Siamir Marulafau,M.Hum - 16/04/2009

Sdr.Alfahry Marulafau,Marulafau yg tinggal di p.Bawa dan Marulafau ygtinggal di Hinako bearasal dari Tuada Sawanagara,yg beranak 2 org,yaitu : 1.Balugu Ifa dan 2. Balugu Gaudu.Balugu Ifa beranak Tiga ,yaitu : 1.Ichumaru,2.Amek,Nene SobadeiHawa,3.Kalimawa,Nenek Sangahagi,M.Duri.Ichumaru beranak 2 org, yaitu : 1.Balugu Hili(Rajo Bandahara,Tua Marulafau yg ada di p. Bawa),2. Tarawa, Ibu Badurani Marunduri.Sedangkan Marulafau yg ada di p. Hinako berasal dar Tuada Balugu Gaudu yg beranak 2 org,yaitu : 1.Gaho,yg mati di Awa’ai,2.Hili Sebua Gaeu beranak di Hinako dan itulah leluhur Marulafau yang ada di Hinako dan menurunkan keturunan sampai pada masa sekarang, Yaahowu.(Ikuti perkembangan diskusi asal usul Ono Niha di Nias On Line…Victor Zebua)

14. bujang bugis - 18/04/2009

Sukses semua sodaraku dimanapun berada!!!
Semoga dengan semua ini dapat menjalinkan silaturahmi kita lebih erat.
Salam kenal saja untuk semua sodara2 yg bermarga maru-marundury yang ada hubungan dengan keturunan bugis(leluhur) dan maru2 lainnya.benar kita harus mengetahaui leluhur kita,sepuya tetap terjaga, sepatutnya kita ceritakan pada anak2 kita agar mereka tau selain dari terombo itu sendiri.(meski tanpa terombo kalau memang bapak atau kakek atau buyut2 kita cerita asal usul kita mestinya kita percaya, kita berpikir lebih jernih misalnya mana ada orang tua mau bohongi anak2nya)

sedangkan leluhur saya bugis berasal dari sulawesi selatan ku ketahui semua ini cerita bapak saya.kenapa sampai hari ini tatap terjaga karena setiap generasi pasti di ceritakan meski tanpa terombo.

terima kasih semuanya semoga forum ini dapat menambah persaudaraan kita semua.dengan tidak melihat sub2 dari mana asal dia.yang pastinya asal pertama dari daratan yunan

Dari Bujang Perbatasan Propinsi Jambi-Riau

15. Arafat - 18/04/2009

Salam sejahtera selalu untuk Marga2 yang ada hubungan dengan suku bugis,salam kenal.

saya memepunyai darah bugis dari leluhurku yang berkata
dari pulau kijang daratan sumatra tengah

16. Fakhrudin - 09/05/2009

Yang Pak Siamir Marulafau maksuddiskusi asal usul Ono Niha di Nias On Line… topik Leluhur Bugis Orang Nias ya? Trims Pak.

17. Etika Marunduri - 14/02/2010

Ya’ahowu ,,
saya Etika Marunduri, boleh gabung diforum ini tidak ???

18. Samuel Bugis - 07/04/2010

Hebat kali ngarangnya ya .. berdasarkan si anu .. menurut si anu .. berdasarkan nanya2 sama si anu .. terciptalah kesimpulan ! hahaha .. pernah tinggal di nias ? berapa hari ? bulan ? tahun ? orang nias atau bugis ? Pernah ikut forum adat ? Mana ada bugis di nias ! ada sih marga bugis, tapi hubungannya dengan lubis om, dari mandailing .. seperti harefa dengan harahap … Zebua dengan Sibuea .. jadi hanya kebetulan saja om, nama marga bugis tidak ada hubungan dengan suku bugis. Seperti marga tambunan dari toba dengan fam tambunan dari minahasa sulawesi utara, juga dengan aran bue (marga) tambunan dari dayak ngaju kalimantan tengah. Ada buah rambe tapi tidak berasal dari marga Rambe. Ada ikan aruan di kalimantan tapi tidak berasal dari marga Aruan. Ada batubara tapi bukan punya marga Batubara. Itu semua nggak ada hubungannya sama sekali. Hanya kebetulan semata.
Itu saja om ya .. nggak ada deh suku bugis di nias yang berbaur dengan adat istiadat suku nias selama puluhan dan ratusan tahun. Kecuali mungkin saja dia itu pegawai atau polisi yang dipindahtugaskan dari instansinya saja kali. Itupun 2 – 3 tahun atau paling lama 15 tahun.
Maaf jika menyinggung.
Saran saya :
‘Ceritakanlah kebenaran, jangan ciptakan persepsi, asumsi dan issue yang tidak benar’.
Trims.
Yaahowu .. Gbu

19. lahoesa - 27/07/2010

satu lagi bro……………..
MARULANI……………
dicari juga tuh…………..

20. lahoesa - 27/07/2010

MARULANI itu kakek dari SILOWALANI……………….kalau ada yang tahu kita berbagi cerita ya…………………

21. www.denun.net - 10/08/2010

Pak Samuel Bugis,

Saya tidak mengarang. Sumbernya jelas tuh.
Salam kenal ya.🙂

22. Mayta z Maru'ao - 07/01/2011

ya’ahowu semua nya.

saya dari marga Maru’ao.
saya masih bingung dari mana asal usul marga maru’ao, tolong di jelaskan ya pak, saya jg mau minta keterangan tentang nenek moyang maru’ao.

trimakasih. ya’ahowu.

23. infaq maruabaya - 14/06/2011

to samuel bugis >> ketahuan ya kamu orang yang tidak diinginkan..tidak terdapat dalam sejarah manapun..sori kami orang yang beradat dan tertulis dalam sejarah..silahkan tanya orangtua kamu..kamu anak pungut dari mana atau diambil dari mana, biar jelas sejarahmu!!

24. nuzan tanjung - 28/12/2011

setuju dengan pak infaq marua baya

25. belajar vb.net - 31/05/2012

nyimak doank…

26. jovin halamona - 08/06/2012

maruao dari aceh..(tapak tuan..)

27. Santo Lase - 17/12/2012

Kepada Sdr. Samuel Bugis, anda baiknya mencerna dahulu sebelum berkomentar. Silsilah yang ditulisakan di atas adalah silsilah berdasarkan sejarah, bukan kemiripian nama seperti yang anda contohkan. dan juga dari kemiripan nama ini lah muncul hipotesis yang dilanjutkan dengan penelitian antropolgi/ sosiolgi yang digali berdasarkan data sekunder yang muncul dari hasil observasi, berinteraksi langsung, maupun/ atau diperkuat dari tulisan yang masih ada. Alm. orang tua saya juga memiliki sejarah tentang marga ini (Tarombo).
jadi bukan berdasarkan si ana, si anu, si ono, atau si..si..yang lain.

Ya’ahowu.

28. felet mendrofa - 28/01/2014

Apakah semua marga maru lafau memeluk islam? tlg di jawab…

29. Syarifman Cei - 18/09/2014

Seruùu….

30. Marulafau Tanjung - 16/08/2016

Assalam,..
Mohon Bertanya Kepada Bapak Siamir Marulafau,..
Marga Marulafau Mayoritas Memeluk Agama Apa Pak,..
Syukron,..
Wassalam,..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: